Selasa, 12 Mei 2009

Pesantren;Asal-Usul ,Pertumbuhan,Karakteristik Dan Unsur-Unsur Kelembagaan

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Perkembangan pendidikan islam di Indonesia antara lain ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap,mulai dari yang amat sederhana,sampai dengan tahap yang sudah terhitung modern dan lengkap.salah satunya adalah pesantren.

Menurut Ahmad Syafi’i Nur :

“ pesantren atau pondok adalah lembaga yang dapat dikatakan merupakan wujud proses wajar perkembangan sistem pendidikan dan selanjutnya,ia dapat merupakan bapak dari pendidikan Islam[1]“.

Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri,sedangkan Pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu.Disamping itu kata pondok mungkin berasal dari bahasa arab “Funduq“ yang berarti “Hotel atau Asrama[2]“.

Sesuatu yang unik pada dunia pesantren adalah begitu banyak variasi antar satu pesantren dengan pesantren yang lain.Namun demikian,dalam berbagai aspek dapat ditemukan kesamaankesamaan umum.Kalau ditelusuri lebih lanjut,maka akan ditemukan kesamaan-kesamaan umum dan variabel-variabel struktural seperti bentuk kepemimpinan,organisasi pengurus,dewan kiai atau dewan guru,susunan rencana pelajaran,kelompok santri dan bagian-bagian lain yang apabila dibandingkan antara satu pesantren dengan pesantren yang lain,dari satu daerah dengan daerah yang lain,maka akan ditemukan tipologi dan variasi dunia pesantren[3].

Kehadiran pesantren tidak dapat dipisahkan dari tuntutan umat.Karena itu,pesantren sebagai lembaga pendidikan selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitarnya sehingga keberadaannya di tengah-tengah masyarakat tidak menjadi terasing.Dalam waktu yang sama segala aktifitasnya pun mendapat dukungan dan apresiasi dari masyarakat sekitarnya.

Karena keunikannya itu maka pesantren hadir dalam berbagai situasi dan kondisi;dan hampir dapat dipastikan bahwa lembaga ini,meskipun dalam keadaan yang sangat sederhana dan karakteristik yang beragam,tidak pernah mati.

Menurut Azyumardi Azra Bahwa :

“Pesantren mampu bertahan bukan hanya karena kemampuannya untuk melakukan adjusment dan readjustment seperti terlihat diatas.Tetapi juga karena karakter eksistensialnya,yang dalam bahasa Nurkholis Madjid disebut sebagai lembaga yang tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga “mengandung makna keaslian Indonesia (Indegenous).Sebagai Indigenous,pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya[4]“.

Berdasarkan pemikiran diatas,maka makalah ini mencoba menjelaskan asal usul pesantren ,pertumbuhan,karakteristik dan unsur-unsur kelembagaan.

B.Rumusan Masalah

1.Bagaimanakah Asal-Usul Pesantren?

2.Bagaimanakah Pertumbuhan Kelembagaannya?

3.Bagaimana Karakteristik Pesantren

4.Apa saja unsur-unsur kelembagaan pesantren?

C.Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Menjelaskan Asal-usul pesantren

2.menjelaskan Pertumbuhan Kelembagaan pesantren

3.Menjelaskan Bagaimana Karakteristik Pesantren

4.membahas unsur-unsur kelembagaan pesantren?

C.Metode Pembahasan

Pembahasan ini menggunakan Metode Analisis-Deskriptif,metode ini dipakai untuk mengungkapkan asal usul pesantren ,pertumbuhan,karakteristik dan unsur-unsur kelembagaan sebagaimana adanya.Kemudian,dianalisis secara kritis perkembangannya dan kemajuan pesantren.Data atau informasi mengenai pesantren dilacak dari kajian-kajian terdahulu yang pernah dilakukan oleh para ahlibaik berupa buku maupun artikel.

BAB II PEMBAHASAN

Pesantren; Asal Usul ,Pertumbuhan,Karakteristik Dan Unsur-Unsur Kelembagaan.

A.Asal-Usul Pesantren

Tidak jelas dan tidak banyak referensi yang menjelaskan kapan pesantren pertama berdiri,bahkan istilah pesantren,kiai dan santri masih diperselisihkan.

Menurut asal katanya pesantren berasal dari kata santri yang mendapat imbuhan awalan Pe dan akhiran an yang menunjukan tempat.Dengan demikian pesantren artinya “Tempat para santri“.Selain itu,asal kata pesantren terkadang dianggap gabungan dari kata sant (Manusia Baik) dengan suku Tra (Suka Menolong) sehingga kata pesantren dapat berarti „Tempat Pendidikan Manusia baik-baik[5]

Ada yang berpendapat bahwa pada umumnya berdirinya suatu pesantren diawali dari pengakuan masyarakat akan keunggulan dan ketinggian ilmu seorang guru atau kiai..Karena keinginan menuntut dan memperoleh ilmu dari kiai atau guru tersebut maa masyarakat sekitar bahkan dari luar daerah datang kepadanya untuk belajar.Mereka lalu membangun tempat tinggal yang sederhana disekitar tempat tinggal guru atau kiai tersebut[6].

Wahjoetomo,mengatakan bahwa pesantren yang berdiri di tanah air,khususnya di jawa dimulai dan dibawa oleh wali songo,dan tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pondok pesantren yang pertama didirikan adalah “Pondok Pesantren yang pertama didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim atau terkenal dengan sebutan Syekh Maulana Maghribi (Wafat tanggal 12 Robi’ul awal 822 H atau tanggal 8 april 1419 M di Gresik[7]“.

Secara terminologis Steenbrink menjelaskan bahwa dilihat dari bentuk dan sistemnya,pesantren berasal dari India[8].Ini membuktikan sebelum proses penyebaran islam di Indonesia sudah digunakan secara umum untuk pengajaran Hindu Jawa.Setelah Islam tersebar di jawa sistem tersebut diambil oleh Islam.Juga istilah ngaji,istilah pondok,langgar di jawa,Surau di Minangkabau,Rangkang Aceh,Bukan berasal dari bahasa arab,merupakan istilah yang terdapat di India.

Dari segi bentuknya antara pendidikan Hindu di Indonesia dan pesantren dapat dianggap sebagai petunjuk asal-usul pendidikan pesantren,seperti penyerahan tanah dari negara untuk kepentingan agama,sistem pendidikan hindu maupun pesantren di indonesia tidak dijumpai pada sistem pendidikan yang asli di Mekkah,letak pesantren yang didirikan di Desa[9].Semua itu dapat dijadikan alasan untuk membuktikan bahwa asal-usul pesantren dari India.

Mahmud yunus menyatakan dalam sejarah pendidikan islam bahwa asal usul pesantren yang menggunakan bahasa arab pada awal pelajarannya,ternyata dapat ditemukan di Baghdad ketika menjadi pusat dan ibukota wilayah islam,tradisi menyerahkan tanah oleh negara dapat ditemukan dalam sistem waqaf[10].

Dengan mengemukakan pendapat para pakar tersebut,membutikan bahwa persoalan-persoalan historis tentang asal-usul pesantren tidak dapat diselesaikan dan dipahami secara keseluruhan,sebelum problematika yang lannya terselesaikan terlebih dahulu,yaitu tentang kedatanga Islam di indonesia.

B.Pertumbuhan Kelembagaan Pesantren

Akar Historis keberadaan pesantren dapat dilacak jauh kebelakang kemasa-masa sebelum kemerdekaan Indonesia.Ketika para wali songo menyiarkan dan menyebarkan Islam di tanah Jawa,mereka memanfaatkan Masjid dan pondok pesantren sebagai sarana dakwah yang efektif.Para wali songo itu mendirikan masjid dan padepokan (Pesantren) sebagai pusat kegiatan mereka dalam mengajarkan dan mendakwahkan agama Islam.Misalnya,Raden rahmat (Yang dikenal sebagai sunan Ampel) mendirikan pesantrennya didaerah kembang kuning (Surabaya).Pesantren ini pada mulanya hanya mempunyai tiga orang santri,yaitu Wiryo Suryo,Abu Hurairoh dan Kiai Bangkuning[11].Setelah melalui beberapa kurun masa pertumbuhan dan perkembangannya,pondok pesantren bertambah banyak jumlahnya dan tersebardi pelosok-pelosok tanah air.Pertumbuhan dan perkembangan pesantren ini didukung oleh beberapa faktor sosio-kutural-keagamaan yang kondusif sehingga eksistensi pesantren ini semakin kuat berakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam Bukunya Dr.Faisal Ismail,MA,Paradigma Kebudayaan islam ;Studi Kritis dan refleksi Historis , bahwa Faktor-Faktor yang menopang menguatnya keberadaan pesantren ini antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :

1)Karena agama islam telah semakin tersebar dipelosok-pelosok tanah air,maka masjid-masjid dan pesantren-pesantren semakin banyak pula didirikan olehumat islam untuk dijadikan sarana pembinaan dan pengembangan syiar islam

2) Kedudukan dan kharisma kiai dan ulam (yang memperoleh penghormatan,penghargaan dan perhatian dari penguasa pada masa itu)sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan pesantren.Sebagai contoh,Pesantren tegal sari di jawa timur didirikan pada tahun 1792 atas anjuran susuhunan II.

3) Siasat belanda yang terus memecahbelah antara penguasa dan ulamatelah mempertinggi semangat jihad umat islam untuk melawan belanda.menghadapi situasi ini,para ulama hijrah ketempat-tempat yang jauh dari kota dan mendirikan pesantren sebagai basis pemusatan kekuatan mereka

4) Kebutuhan Umat Islam yang semakin mendesak akan sarana pendidikan yang islami,karena sekolah-sekolah belanda secara terbatas hanya menerima murid-murd dari kelas sosial tertentu

5) Semakin lancarnya hubungan antara indonesia dan tanah suci Mekkah yang memungkinkan para pemuda islam indonesia untuk belajar ke Mekkah yang merupakan pusat studi Islam.Sepulangnya dari mekah,banyak diantara mereka yang mendirikan pesantren untuk mengajarkan dan mengembangkan agama islam didaerah asal mereka masing-masing[12].

Demikianlah,pada masa awal pembentukannya pondok pesantren telah tumbuh dan berkembang secara subur dengan tetap menyandang ciri-ciri tradisionalnya.Setelah berabad-abad lamanya,pesantren semakin berkembang dan kini jumlahnya mencapai rbuan.Menurut buku laporan yang dikeluarkan oleh Departemen Agama pada tahun 1982,jumlah pesantren yang ada di indonesia tercatat sebanyak 4.890 Buah[13].

C. Karakteristik Pendidikan Pesantren

Untuk mengetahui karakteristik pendidikan pesantren,maka dapat dilacak dari berbagai segi yang meliputi keseluruhan sistem pendidikan:seperti materi pelajaran dan metode pengajaran,prinsip-prinsip pendidikan,sarana dan tujuan pendidikan pesantren,kehidupan kiai dan santriserta hubungan keduanya.

1)Materi pelajaran dan Metode Pengajaran

Sebagai lembaga pendidikan islam,pesantren pada dasarnya hanya mengajarkan agama,sedangkan sumber kajian atau mata pelajarannya ialah kitab-kitab dari bahasa arab.Pelajaran agama yang dikaji dipesantren adalah Al-Qur’an dengan tajwidnya dan tafsirnya,aqaid dan ilmu kalam,fiqih dan usul fiqih,hadits dan mustholahul hadits,Bahasa arab dengan ilmu alatnya seperti nahwo,sharaf,bayan,ma’ani,badi‘ dan ‘arud ,tarikh,mantiq dan tasawuf.Kitab yang dikaji di pesantren umumya kitab-kitab yang di tulis dalam abad pertengahan,yaitu abadke-12 sampai dengan abad ke-15 atau lazim disebutdengan “Kitab Kuning“[14].

Adapun metode yang lazim dipergunakan dalam pendidikan pesantren ialah wetonan,sorogan,dan hafalan.Metode Wetonan adalahmetode kuliah dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk disekeliling kiai yang menerangkan pelajaran.Santri menyimak kitab masing-masing dan mencatat jika perlu.

Metode sorogan adalah suatu metode dimana santri menghadap guru atau kiai seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajarinya,kiai membacakan dan menerjemahkannya kalimat perkalimat;kemudian menerangkan maksudya.

Metode Hafalan ialah suatu metode dimana santri menghafal teks atau kalimat tertentu dari kitab yang dipelajarinya .Biasanya cara menghafal ini diajarkan dalam bentuk syair atau Nazam[15].

Dalam buku yang di editori oleh Mastuki HS,M.Ag dan M.Ishom El-saha,M.Ag. yang berjudul Intelektualisme Pesantren;Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Perkembangan Pesantren, menurut Martin bahwa ada perbedaan yang paling menonjol antara pesantren di era pertumbuhan dan pesantren di era perkembangan.Jika pesantren di era pertumbuhan lebih menitik beratkan transmisi mistisisme di era perkembangan berdiri dan berkembang secara variatif,berciri khas sesuai kuriulum yang dikembangkan,Memang benar bahwa diera pertumbuhan pesantren,pada abad ke 16 sampai abad ke 18,kitab kuning sudah dipelajari umat islam.tapi hal itu lebih banyak merujuk kepada kitab-kitab tasawuf panteistis,dan hanya ada dua kitab fiqh,yaitu :Al-Taqrib Fi al Fiqh dan Al-Idhaah Fi al Fiqh.Sumber lain menambahkan,ada dua kitab tafsir yang sudah dipelajari,masing-masing;Al-Jalalain dan Al-Baidhawi.karenanza menurut Martin,wawasan intelektual pada abad ke-16 sampai abad ke-18 dipandang lebih luas dibandingkan dengan pesantren di era abad ke-19.Hal ini bisa dimaklumi karena alasan yang dipakainya adalah merujuk kepada kitab-kitab tasawuf yang memang komprehensif dikaji pada masa pertumbuhan pesantren,mencakup tasawuf falsafi dan tasawuf ortodoks.Sementara di era perkembangan pesantren,kitab tasawuf yang dikaji hanyalah kitab tasawuf ortodoks,seperti Ihya ulumuddin[16].

Beda halnya jika martin berbicara tentang kitab kuning secara umum.Pastinya ia akan sependapat,bahwa kitab yang diajarkan pada masa perkembangan pesantren sangatlah komprehensif.Pasalnya,di era perkembangan pesantren mulai dikembangkan pesantren salafiyah,karena mengajarkan kitab-kitab kuning terutama fiqh,tafsir dan tasawuf;adapula pesantren alat,karena menitikberatkan kajian nahwu sharaf;serta ada pesantren al-qur’an yang mengkhususkan diri pada hafalan kitab suci dan ilmu qiroat (bacaan Al-Qur’an).

Momentum Pembentukan Tradisi kitab kuning di Indonesia menurut Azyumardi Azra menemukan momentum terkuatnya sejak awal abad ke-19,yakni ketika pesantren-pesantren,surau-surau,pondok-pondok mulai berkembang dan mapan sebagai institusi pendidikan islam tradisional diberbagai daerah di Nusantara[17].

2) Jenjang Pendidikan

Jenjang pendidikan esantren tidak dibatasi seperti dalam lembaga-lembaga pendidikan yang memakai sistem klasikal.Umumnya,kenaikan tingkat seorang santri ditandai dengan tamat dan bergantinya kitab yang dipelajarinya.Apabila seorang santri telah menguasai satu kitab dan telah lulus imtihan (Ujian) yang diuji oleh kiai nya,maka ia berpindah ke kitab yang lain.Jadi jenjang pendidikan tidak ditandai dengan naiknya kelas seperti dalam pendidikan formal,tetapi pada penguasaan kitab-kitab yang telah ditetapkan dari yang paling rendah sampai paling tinggi[18].

3) Fungsi Pesantren

Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sosial dan penyiaran agama.Sementara Azyumardi azra menyatakan bahwa ada tiga fungsi pesantren tradisional.Pertama,transmisi dan transfer ilmu-ilmu keislaman,Kedua,Pemeliharaan Tradisi keislaman dan ketiga,reproduksi ulama[19].

4) Prinsip-Prinsip Pendidikan Pesantren

Sesuai dengan fungsinya yang komprehensif dan pendekatannya yang holistik,pesantren memiliki prinsip-prinsip utama dalam menjalankan pendidikannya.Setidaknya ada dua belas prinsip yang dipegang teguh pesantren :“(1)theocentric; (2)Sukarela dalam pengabdian; (3)kearifan; (4)kesederhanaan;(5)kolektivitas;(6)mengatur kegiatan bersama;(7) kebebasan terpimpin;(8)kemandirian (9)pesantren adalah tempat mencari ilmu dan mengabdi;(10)mengamalkan ajaran agama (11) belajar di pesantren bukan untuk mencari Ijazah (12) restu kiai artinya semua perbuatan yang dilakukan oleh setiap warga pesantren sangat bergantung pada kerelaan dan do’a dari kiai[20].

5) Sarana dan tujuan Pesantren

Dalam bidang sarana,pesantren tradisional ditandai oleh ciri khas kesederhanaan.Sejak dulu lingkungan atau kompleks pesantren sangat sederhana.Tentu saja kesederhanaan secara fisik kini sudah berubah total.Banyak pesantren tradisional yang memiliki gedung yang megah.Namun,Kesederhanaan dapat dilihat dari sikap dan prilaku kiai dan santri serta sikap mereka dalam pergaulan sehari-hari.Sarana belajar misalnya,masih tetap dipertahankan seperti sedia kala,dengan duduk diatas lantai dan di tempat terbuka dimana kiai menyampaikan pelajaran.

Mengenai tujuan pesantren,sampai kini belum ada suatu rumusan yang definitif.Antara satu pesantren dengan pesantren yang lain terdapat perbedaan dalam tujuan,meskipun semangatnya sama,yakni untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat serta meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.Adanya keberagaman ini menandakan keunikan masing-masing pesantren dan sekaligus menjadi karakteristik kemandirian dan independensinya.

6) Kehidupan Kiai dan Santri

Kehidupan di pesantren berkisar pada pembagian kegiatan berdasarkan shalat lima waktu.Dengan sendirinya pengertian waktu pagi,siang dan sore di pesantren menjadi berbeda dengan pengertian diluar.dalam hal inilah misalnya sering dijumpai santri yang menanak nasi ditengah malam,mencuci pakaian menjelang terbenam matahari.Dimensi waktu yang unik ini tercipta karena kegiatan pokok pesantren dipusatkan pada pemberian pengajian kitab teks (Al-Kutub Al-Muqararah) pada setiap selesai sholat wajib.Demikian pula ukuran lamanya waktu yang dipergunakan sehari-hari;pelajaran diwaktu tengah hari dan malam lebih panjang daripada diwaktu petang dan subuh.

Corak kehidupan pesantren juga dapat dilihat dari struktur pengajaran yang diberikan secara berjenjang dan berulang-ulang.Masing-masing kitab dipelajari bertahun-tahun bahkan pengajaran dipesantren tidak mengenal kata tamat atau selesai.

Dari pembahasan diatas dapat diketahui bahwa karakteristik kehidupan pesantren yang sebenarnya,sebagai sesuatu yang berbeda dengan sistem pendidikan pada umumnya.

Setidaknya ada delapan ciri kehidupan di pesantren[21] :

a)Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan kiainya

b) Kepatuhan santri kepada kiai

c)Hidup hemat dan sederhana benar-benar diwujudkan dalam lingkungan pesantren

d)Kemandirian

e)Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan

f)Disiplin sangat dianjurkan

g)Berani menderita untuk mencapai satu tujuan

h)Pemberian Ijazah [22].

D. Unsur Unsur Kelembagaan Pesantren

Dalam lembaga pendidikan islam yang disebut pesantren sekurang-kurangnya ada unsur-unsur:kiai yang mengajar dan mendidik serta menjadi panutan,santri yang belajar pada kiai,masjid sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan dan shalat jamaah,dan asrama tempat tinggal para santri.

Selain unsur-unsur kelembagaan,karakteristik pesantren juga dapat dilihat dari struktur organisasinya yang meliputi;Status kelembagaan,struktur organisasi,gaya kepemimpinan,dan suksesi kepemimpinan.

Setiap pesantren memiliki struktur yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.Ciri-ciri umum struktur organisasi pesantren dapat dijelaskan bahwa pada dasarnya pesantren mempunyai dua sayap:sayap yang menjaga nilai-nilai kebenaran absolut dan sayap yang menjaga nilai-nilai kebenaran relatif.Sayap pertama bertanggung jawab pada pelestarian kebenaran atau kemurnian agama,sedangkan sayap kedua bertanggung jawab pada pengamalan nilai-nilai absolut,baik dalam pesantren maupun diluar pesantren.Ajaran kiai,ustad,kitab-kitab agama yang diajarkan di pesantren diyakini memiliki kebenaran absolut oleh para santri,karena itu tidak perlu dipertanyakan lagi kebenaran dan keabsahansebuah ajaran mereka hanya memahami dan mengamalkannya.

Gaya kepemimpinan pesantren adalah mempunyai daya untuk menggerakan dan mengarahkan unsur pelaku pesantren untuk berbuat sesuatu sesuai kehendak pimpinan.Karena landasan keikhlasan,maka apa saja yang direncanakan mendapat dukungan penuh baik dari santri maupun masyarakat luas.

Suksesi kepemimpinan terutama pada pesantren milik pribadi adalah bersifat patrimonial,dimana kepemimpinan diwariskan kepada keluarganya,seperti dari pendiri diwariskan kepada anaknya,menantu dan cucunya;tetapi juga kadangkala diserahkan kepada santri senior yang berprestasi;tanpa harus ada hubungan keluarga.

BAB III

KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa :

1. Tidak jelas dan tidak banyak referensi yang menjelaskan kapan pesantren pertama berdiri,bahkan istilah pesantren,kiai dan santri masih diperselisihkan.

2. Akar Historis keberadaan pesantren dapat dilacak jauh kebelakang kemasa-masa sebelum kemerdekaan Indonesia.Ketika para wali songo menyiarkan dan menyebarkan Islam di tanah Jawa,mereka memanfaatkan Masjid dan pondok pesantren sebagai sarana dakwah yang efektif.Para wali songo itu mendirikan masjid dan padepokan (Pesantren) sebagai pusat kegiatan mereka dalam mengajarkan dan mendakwahkan agama Islam.Misalnya,Raden rahmat (Yang dikenal sebagai sunan Ampel) mendirikan pesantrennya didaerah kembang kuning (Surabaya).Pesantren ini pada mulanya hanya mempunyai tiga orang santri,yaitu Wiryo Suryo,Abu Hurairoh dan Kiai Bangkuning.Setelah melalui beberapa kurun masa pertumbuhan dan perkembangannya,pondok pesantren bertambah banyak jumlahnya dan tersebardi pelosok-pelosok tanah air.Pertumbuhan dan perkembangan pesantren ini didukung oleh beberapa faktor sosio-kutural-keagamaan yang kondusif sehingga eksistensi pesantren ini semakin kuat berakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

3. Untuk mengetahui karakteristik pendidikan pesantren,maka dapat dilacak dari berbagai segi yang meliputi keseluruhan sistem pendidikan:seperti materi pelajaran dan metode pengajaran,prinsip-prinsip pendidikan,sarana dan tujuan pendidikan pesantren,kehidupan kiai dan santriserta hubungan keduanya.

4. Dalam lembaga pendidikan islam yang disebut pesantren sekurang-kurangnya ada unsur-unsur:kiai yang mengajar dan mendidik serta menjadi panutan,santri yang belajar pada kiai,masjid sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan dan shalat jamaah,dan asrama tempat tinggal para santri. Selain unsur-unsur kelembagaan,karakteristik pesantren juga dapat dilihat dari struktur organisasinya yang meliputi;Status kelembagaan,struktur organisasi,gaya kepemimpinan,dan suksesi kepemimpinan.

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata,H.(Ed),Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia,grasindo,yakarta,2001,h.93

Ahmad Syafi’i Nur,Pesantren :Asal Usul Dan Pertumbuhan Kelembagaan,Dalam Buku yang di Edit oleh Abuddin Nata yang berjudul Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia,Grasindo,Jakarta,2001

Azyumardi Azra,Prof.Dr.H.,Pendidikan Islam;Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru,Logos,Jakarta,2002

Dawam rahardo,M. (Ed.),Pesantren Dan Pembaharuan,LP3ES,Jakarta,1974

.Hasbullah, Drs.,Sejarah pendidikan Islam di Indonesia,Raja Grafindo Persada,Jakarta,1996

Zamakhsyari Dofier,Tradisi Pesantren,LP3ES,Jakarta ,1983

Mahmud Yunus,Sejarah pendidikan Islam,Raja Grafindo Persada,Jakarta,1996

Marwan Saridjo et.al.,Sejarah Pondok Pesantren Di Indonesia,Drama Bakti,Yakarta,1982

Mastuki HS,M.Ag dan M.Ishom El-saha,M.Ag. ,Intelektualisme Pesantren;Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Perkembangan Pesantren,Diva Pustaka,Jakarta,2003

Wahjoetomo, Dr.dr.,Perguruan Tinggi Pesantren,LP3ES,Yakarta,1994,h.5



[1] Ahmad Syafi’i Nur,Pesantren :Asal Usul Dan Pertumbuhan Kelembagaan,Dalam Buku yang di Edit oleh Abuddin Nata yang berjudul Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia,Grasindo,Jakarta,2001,h.89

[2] Zamakhsyari Dofier,Tradisi Pesantren,LP3ES,Jakarta ,1983,h.18

[3] M.Dawam rahardo (Ed.),Pesantren Dan Pembaharuan,LP3ES,Jakarta,1974,h.24

[4] Azyumardi Azra,Pendidikan Islam;Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru,Logos,Jakarta,2002,h.108

[5] Dr.dr.Wahjoetomo,Perguruan Tinggi Pesantren,LP3ES,Yakarta,1994,h.5

[6] Drs.Hasbullah,Sejarah pendidikan Islam di Indonesia,Raja Grafindo Persada,Jakarta,1996,h.138

[7] Dr.dr.Wahjoetomo,Op.Cit.

[8] Dalam H.Abuddin Nata (Ed),Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia,grasindo,yakarta,2001,h.93

[9] Ibid.,h.93

[10] Mahmud Yunus,Sejarah pendidikan Islam,Raja Grafindo Persada,Jakarta,1996.,h.31

[11] Marwan Saridjo et.al.,Sejarah Pondok Pesantren Di Indonesia,Drama Bakti,Yakarta,1982,h.25

[12] Dr.Faisal Ismail,MA,Paradigma Kebudayaan islam ;Studi Kritis dan refleksi Historis,Titian Ilahi Press,Yogyakarta,2003,h.107

[13]Dr.Faisal Ismail,MA, Ibid.h.108

[14] H.Abuddin Nata (Ed),Loc.Cit.h.107

[15] Ibid.,h.107-108

[16] Mastuki HS,M.Ag dan M.Ishom El-saha,M.Ag. ,Intelektualisme Pesantren;Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Perkembangan Pesantren,Diva Pustaka,Jakarta,2003,h.3

[17]Prof.Dr.Azyumardi Azra, Pendidikan Islam;Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru,Logos,Jakarta,2002,h.114

[18] H.Abuddin Nata (Ed),Loc.Cit.h.110

[19]H.Abuddin Nata (Ed), Ibid.,h.112

[20]H.Abuddin Nata (Ed), Ibid.,h.113

[21] Ciri-ciri diatas merupakan pesantren dalam bentuk yang masih murni belum adanya pengadopsian sistem pendidikan moder.

[22] H.Abuddin Nata (Ed), Ibid.,h.18-120

Selengkapnya...

Sabtu, 09 Mei 2009

analisa pengembangan kurikulum

ANALISA PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

DI INDONESIA

Di negara kita saat ini, masalah peningkatan mutu pendidikan Islam selalu menjadi pembahasan yang menarik. Sinyalemen yang ada, 1) pendidikan Islam yang kuantitasnya begitu besar dan tersebar di seluruh penjuru negeri telah begitu kuat mengakar di dalam hati masyarakat Indonesia yang memang mayoritas muslim, serta 2) telah terjadi kemerosotan mutu pendidikan, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tingkat pendidikan tinggi. Hal ini berlangsung akibat penyelenggaraan pendidikan yang lebih menitikberatkan pada aspek kuantitas dan kurang dibarengi dengan aspek kualitasnya, dan pembelajaran yang fokus orientasinya bersifat subject matter oriented dalam arti memahami dan menghafal pelajaran sesuai dengan kurikulum saja.

Selain itu dunia pendidikan juga dihadapkan pada berbagai masalah pelik yang apabila tidak diatasi secara tepat, tidak mustahil dunia pendidikan akan ditinggal oleh zaman. Kesadaran akan timbulnya dunia pendidikan dalam memecahkan dan merespon berbagi tantangan baru yang timbul pada setiap zaman adalah suatu hal yang logis dan bahkan suatu keharusan. Hal yang demikian dapat dimengerti mengingat duinia pendidikan merupakan salah satu pranata yang terlibat langsung dalam mempersiapkan masa depan umat manusia. Kegagalan dunia pendidikan dalam menyiapkan masa depan umat manusia, adalah merupakan kegagalan bagi kelangsungan kehidupan bangsa.

Sebuah keniscayaan bahwa kehadiran lembaga pendidikan Islam yang berbagai jenis dan jenjang pendidikan itu sesungguhnya sangat diharapkan oleh berbagai pihak, terutama umat Islam. Bahkan hal itu terasa sebagai kebutuhan yang sangat mendesak terutama bagi kalangan muslim kelas menengah ke atas yang secara kuantitatif terus meningkat belakangan ini. Fenomena sosial yang sangat menarik ini mestinya dijadikan tema sentral kalangan pengelola pendidikan Islam dalam melakukan pembaruan dan pengembangannya.

Rendahnya mutu pendidikan Islam dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab. Antara lain, rendahnya mutu kurikulum (kurikulum yang tidak dibarukan), format isi silabus perkuliahan yang tidak bermutu, administrasi kelas tidak berjalan, tidak memiliki pedoman pembimbingan. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan kaji ulang dan revisi kurikulum secara periodik sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Oleh karena itu kurikulum sebagai salah satu elemen dasar pendidikan juga memegang peranan penting dan vital dalam ikut mensukseskan tujuan Pendidikan Nasional. Sehingga pengembangan kurikulum di dalam pendidikan Islam mutlak diperlukan. Hal ini tidak lepas dari banyaknya materi pelajaran yang dibebankan kepada lembaga pendidikan Islam. Sehingga dalam penyelenggaraannya dituntut adanya kreatifitas dari pengelola dan guru di lembaga pendidikan Islam.

Lazimnya, segala pembaharuan dalam bidang pendidikan harus dipahami sebagai upaya manusia untuk membebaskan dirinya dari segala keterbelakangan dan ketidaktahuan yang dimilikinya. Selain itu, secara lebih normatif, pendidikan merupakan cara manusia untuk mengenal dirinya dalam konteks kemanusiannya, serta sebagai upaya mendekatkan dirinya kepada Penciptanya (Allah SWT) melalui perspektif kemanusiaan yang dimilikinya.

Bagi kebanyakan negara yang sedang berkembang bahkan negara maju sekalipun pendidikan berfungsi untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM). Secara normatif pendidikan diharapkan dapat memberi petunjuk bagi keberlangsungan kehidupan sesuai dengan tata nilai ideologis dan kultural bangsa, sehingga proses yang berlangsung dalam dunia pendidikan harus dapat memberi kesadaran kepada manusia akan potensi kemanusiaan yang dimilikinya

Lebih dari itu pendidikan harus mampu merangsang manusia untuk mempergunakan potensi tersebut sesuai dengan tata nilai kemanusiaan. Selain itu, secara material pendidikan harusnya dapat memberikan pengetahuan yang memajukan dan mempertinggi kualitas hidup, baik dalam skala kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun bernegara.

Menengarai hal tersebut, bagi masyarakat bangsa Indonesia, masalah pendidikan dengan sendirinya menjadi salah satu agenda yang menduduki posisi penting. Kesadaran akan hal inilah yang menjadikan pemerintah (negara) memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan proes pendidikan bagi warga negaranya.

Hanya saja jika dicermati, tampak kesenjangan antara tingginya animo masyarakat untuk mereguk pendidikan sebanyak-banyaknya dengan kemampuan Pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan. Menyadari keterbatasan yang dimiliki, negara membuka peluang kepada setiap individu warga negara, kelompok masyarakat dan lembaga yang ada di masyarakat lainnya untuk ikut berpartisipasi memecahkannya.

Pada sisi inilah banyak lembaga-lembaga Islam yang turut mengambil peluang untuk ikut berkompetisi menyelenggarakan lembaga pendidikan, tentunya dengan tujuan selain sebagai wujud partisipasi aktif, juga adanya keharusan untuk melindungi umat dengan cara menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan agama yang dianutnya.

Di lihat dari sisi manapun, pendidikan Islam memiliki peran dalam konteks pendidikan nasional. Hanya saja harus dimaklumi dan dipahami jika hingga hari ini secara kelembagaan pendidikan Islam kerap menempati posisi kedua dalam banyak situasi. Sebagai contoh, jurusan yang menawarkan pendidikan Islam kurang banyak peminatnya, jika dibandingkan dengan jurusan lain yang dianggap memiliki orientasi masa depan yang lebih baik. Dalam hal pengembangan kelembagaan akan terlihat pula betapa program studi/ sekolah yang berada di bawah pengelolaan dan pengawasan Departemen Agama tidak selalu yang terjadi di bawah pembinaan Dinas Pendidikan Nasional (Diknas), bahkan harus dengan tertatih untuk menyesuaikan dengan yang terjadi di sekolah-sekolah umum tersebut.

Meski disadari betapa pentingnya posisi pendidikan Islam dalam konteks pendidikan nasional. Namun, harus pula diakui hingga saat ini posisi pendidikan Islam belum beranjak dari sekadar sebuah sub sistem dari sistem besar pendidikan nasional.

Keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, diharapkan dapat membawa perubahan pada sisi managerial dan proses pendidikan Islam. PP tersebut secara eksplisit mengatur bagaimana seharusnya pendidikan keagamaan Islam (bahasa yang digunakan PP untuk menyebut pendidikan Islam), dan keagamaan lainnya diselenggarakan.

Salah satu alasan terkuat mengapa perlu penyatuan pendidikan di bawah satu atap adalah, dalam menentukan kebijakan pengelolaan pendidikan, terutama yang berkaitan dengan masalah akademis selama ini Depag selalu mengikuti kebijakan yang dibuat oleh Diknas. Inovasi-inovasi pembelajaran lebih banyak muncul kali pertama dari Diknas bukan dari Depag. Dengan sendirinya, Depag kerap selalu menunggu adanya inovasi ataupun kebijakan pengelolaan yang akan dikeluarkan oleh Diknas. Dalam catatan sejarah pendidikan nasional, hampir tidak banyak inovasi yang dilakukan Depag yang benar-benar berbeda dengan yang dikembangkan oleh Depdiknas.

Kenyataan ini jelas tidak dapat dipungkiri, cermati saja bagaimana kebijakan tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terasa betapa dominasi Diknas dalam pengembangan dan penerapannya begitu terlihat. Sementara itu, Depag tetap setia mengikutinya. Untuk kasus yang lebih baru, Depag juga tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan mata uji apa saja yang harus ditempuh oleh peserta didik yang mengikuti pendidikan di MTs dan MA/ MAK saat penentuan kelulusan.

Selain itu dari sisi managerial, madrasah dikelola Departemen Agama yang tidak memiliki dana yang cukup untuk membiaya madrasah yang jumlahnya sangat banyak, di samping Depag tidak memiliki sumber tenaga kependidikan yang memadai untuk mengelola madrasah, jika dibandingkan dengan Diknas.

Sejak awal hadir, sebenarnya madrasah lebih berfokus pada pendidikan keagamaan dan keislaman. Dengan perubahan orientasi tersebut justru madrasah saat ini kehilangan jati dirinya, dan lebih parah lagi kesulitan pula untuk merebut peran dalam konteks pendidikan nasional, jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum di bawah pembinaan Depdiknas.

Pada masa-masa yang akan datang, dalam hal pengembangan kurikulum, tampaknya madrasah masih akan terus dihadapkan pada dilema dikotomi keilmuan. Setia dengan tujuan awal hadirnya sebagai pengembang ilmu-ilmu keislaman, atau sesuai dengan tuntutan kebutuhan pasar melakukan perubahan kurikulum yang ukurannya adalah pragmatism sebagai upaya pemenuhan kebutuhan hidup peserta didik. Tentu saja, pilihan atas itu semua akan memiliki resiko yang tidak sama dalam pengembangan materi pembelajaran, orientasi serta proses pembelajarannya.

Sementara persoalan pendidikan kesetaraan di lingkup Diknas sendiri belum seluruhnya tuntas, setidaknya untuk masalah home scooling yang hingga hari ini masih tarik ulur tentang penyelenggaraannya. Tentunya Depag juga harus mulai antisipasi untuk membuat desain model penyetaraan bagi pendidikan diniyah non-formal ini. Sebab rasanya tidak adil, tidak menghargai mereka yang telah menempuh pendidikan selama kurun waktu tertentu, namun tidak memberi atribut kelulusannya.

Pendidikan Islam di Indonesia selalu dihadapkan pada tantangan-tantangan serius yang membutuhkan perhatian ekstra dari pemerintah dan kalangan yang berkecimpung di dunia pendidikan. Dewasa ini, pendidikan Islam setidaknya menghadapi empat tantangan pokok. Pertama, konformisme kurikulum dan sumber daya manusia; kedua, implikasi perubahan sosial politik; ketiga, perubahan orientasi; dan keempat, globalisasi. Semua tantangan pendidikan Islam tersebut terkait satu sama lain.

Konformisme, atau cepat merasa puas dengan keadaan yang ada, merupakan tantangan pendidikan di manapun. Konformisme adalah musuh utama kreatifitas. Padahal, kreatifitas sangat dibutuhkan untuk terus memperbarui keadaan pendidikan. Jepang yang dikenal dengan sistem pendidikan yang ketat justru sejak 1980-an meninjau ulang pendidikan mereka yang dianggap terjebak konformitas. Kreatifitas yang merupakan “roh” pendidikan dinilai sudah lama tercerabut sehingga hal itu sangat mengkhawatirkan pemerintah Jepang.

Pendidikan Islam yang sudah ”tertinggal” (dibandingkan pendidikan yang berorientasi sekuler) malah juga terjebak pada konformisme. Ini tentu suatu kondisi yang lebih paradoks. Konformisme biasanya terjadi pada suatu kondisi yang sudah mapan, akan tetapi hal ini justru terjadi pada konteks pendidikan Islam yang bergerak lamban. Bisa dibayangkan, implikasi lebih lanjut dari konformisme pendidikan Islam.

Kurikulum yang kini dijalankan di lembaga pendidikan Islam, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah, masih banyak menggunakan model lama. Pendidikan dasar agama masih menjadi andalan, sebagai bekal mengajarkan pendidikan agama lebih lanjut kepada masyarakat, akan tetapi hal ini saja tidak cukup. Harus diikuti dengan bekal pengetahuan lainnya yang kontekstual dengan perkembangan sosial. Sekalipun di lembaga tertentu ada pembaruan kurikulum, namun sifatnya masih parsial. Secara keseluruhan kurikulum pendidikan Islam masih konservatif.

Implikasinya sangat serius ketika para lulusannya (SDM) menghadapi perubahan di luar dunia pendidikan mereka. Dunia ini jauh lebih kompleks daripada yang mereka pelajari dan bayangkan selama berada di tempat belajar-mengajar tadi. Pluralitas sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat membuat mereka gagap. Indonesia yang mereka diami rupanya sebuah entitas yang berwarna. Kebangsaan ini rupanya tak bisa dilihat secara monolitik, misal dari sudut pandang umat Islam saja. Di sisi lain, kelompok sosial yang merupakan produk pendidikan sekuler, dan mereka umumnya non-muslim, justru lebih adaptif, responsif, serta menguasai tren iptek.

Perubahan sosial politik ikut memberi ’warna’ pendidikan Islam. Label sebagai institusi pendidikan Islam ikut mempengaruhi persepsi publik terhadap posisi lembaga pendidikan Islam dalam konteks perubahan sosial politik. Ironisnya, lembaga pendidikan Islam kerap dijadikan “kendaraan” oleh para petualang politik mencari dukungan. Setelah dukungan suara didapatkan, kenyataannya lembaga pendidikan Islam tadi tetap tidak banyak berubah. Realitas seperti ini dikhawatirkan memandulkan gerak pendidikan agama. Visi pendidikan Islam akhirnya sulit berubah dari lembaga yang hanya mendidik para calon ulama, dalam konotasinya yang ortodoks.

Paradoks lainnya berkaitan dengan stigma baru yang mendera lembaga-lembaga pendidikan agama. Dewasa ini lembaga pendidikan Islam mendapat citra baru, yakni mengajarkan radikalisme. Padahal kalau diperiksa tidak semua pesantren mengajarkan pendidikan dengan orientasi yang mengarahkan peserta didik berbuat radikal. Islam agama damai dan menyejukkan (hanif) mesti tetap menjadi pesan pokok pengajaran mulai dari tingkat Ibtidaiyah sampai Perguruan Tinggi. Radikalisme dalam pengajaran biasanya memunculkan radikalisme dalam tindakan.

Perubahan orientasi pendidikan Islam sudah menjadi keniscayaan dan tuntutan zaman, terlebih di era globalisasi dewasa ini. Orientasi dari sekedar mendidik mereka untuk memahami ilmu (pengetahuan) agama haruslah diubah menjadi paham terhadap ilmu agama sekaligus ilmu sosial, ilmu humaniora dan ilmu alam. Ilmu agama dan ”ilmu duniawi” harus konvergen.

Selengkapnya...

Profil Saya


ABDUL ROHIM,S.Hum dilahirkan disebuah kampung terpencil tepatnya di Bandungbaru pada 23 Juni 1983 anak ke-3 dari 4 bersaudara (Lilis Listiyani,Abdul Rohman,S.Pd.I.,Abdul Rohim,S.Hum,dan Dewi Kurniawati,A.Md.) dari pasangan H.Aming Surya dan Hj.Cicih Wiyarsih .Menempuh Pendidikan Formal di MIN MODEL bandungbaru Lulus tahun 1995,MTs. Al-Huda Bandungbaru Lulus tahun 1998,MAN Pringsewu lulus tahun 2001,S-1 fakultas humaniora dan budaya jurusan Bahasa dan Sastra Arab di UIN (Universitas Islam Negeri) Malang lulus tahun 2006 dengan judul skripsi Mafhumul Hermeneutik 'inda Nasr hamd abu Zaid (Dirosatun Tahliliyatun Naqdiyatun) lulus dengan IPK Cumlaude. dan sekarang sedang menyelesaikan S2 di Program pasca Sarjana (PPS) IAIN Raden Intan Bandar Lampung Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) konsentrasi Pengembangan Kurikulum.Pendidikan Non-Formal di tempuh di Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu pada 1998-2001

Selama menjadi mahasiswa aktif di organisasi intra maupun ekstra kampus.Di Organisasi intra kampus pernah menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Semi Otonom (LSO) Pers dan Jurnalistik Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan sastra Arab (HMJ-BSA) periode 2002-2003),Direktur LSO Pers dan Jurnalistik HMJ-BSA UIN Malang periode 2003-2004,Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang periode 2004-2005,Unit Kegiatan Mahasiswa-Unit Aktifitas Pers Mahasiswa (UKM-UAPM) UIN Malang dan Ketua MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) UIN Malang periode 2005-2006.

Di Organisasi Ekstra Kampus adalah aktivis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Komisariat Sunan Ampel UIN Malang,pernah menjabat sebagai Koordinator Pengkaderan PMII Rayon 'Perjuangan" Ibnu Aqiel periode 2004-2005,Direktur LP2J (Lembaga Pengembangan Pers dan Jurnalistik) PMII Komisariat 'SA' UIN Malang periode 2004-2005,Pengurus Bidang LK4 (Lembaga Kajian Keislaman Klasik dan Kontemporer)PMII Komisariat 'SA' UIN Malang periode 2005-2006 dan Pengurus PMII Cabang Kota Malang Bidang Pengkaderan dan Pengembangan Sumber Daya Kader Periode 2006-2007.

Aktif dalam kepanitian atau mengikuti seminar,diskusi-diskusi, pelatihan dikampus maupun luar kampus,diantaranya adalah Ketua Panitia 'Seminar Regional dan pecan Dua Bahasa (PDB) SMU/MA se-jawa Timur Oleh BEM Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang tahun 2003,Ketua Panitia Pelatihan Strategy Planning PMII Rayon Perjuangan Ibnu Aqiel tahun 2003,ketua Panitia Ta'aruf HMJ- BSA UIN Malang tahun 2002,Mengikuti seminar-seminar diantaranya peserta seminar nasional 'Konsolidasi Kedaulatan NKRI;Dalam Perspektif Ketahanan Integrasi Nasional' oleh Pengurus Cabang PMII Kota Malang tahun 2005,Peserta dialog Nasional dan Bedah Buku 'Confension For an Economic Hit Man' tahun 2006 yang diadakan oleh PMII Koms. 'SA'UIN Malang,dll.Mengikuti Pelatihan-pelatihan diantaranya :Pelatihan Analisa Sosial dan Strategy Planning oleh BEM UIN Malang pada 2003,Pelatihan Advokasi Kebijakan Publik oleh PMII koms.'SA'UIN Malng pada 2004,Program Pelatihan Manegerial Universitas di Universitas Kebangsaan Malaysia pada 17-22 Nov 2005 sekaligus kunjungan ke singapura dan Thailand.,Diklat Jurnalistik 2001 oleh UAPM UIN Malang,Diklat Jurnalistik HMJ BSA tahun 2003.

Selepas Lulus kuliah,kembali dari Hijrahnya di kota malang menuju kampung halamannya di Lampung dan aktif menjadi seorang penerjemah dan pendidik pelajaran Bahasa arab di Almamaternya yaitu di MAN Pringsewu,MTs.Al-Huda bandungbaru dan MA Ma'arif sukoharjo.dan sedang mengembangkan Madrasah Diniyyah Darussa'adah almusri' di Desa nya.dalam kesibukannya tetap Aktif mengikuti Seminar-seminar,pelatihan dan kajian-kajian pendidikan diantaranya mengikuti orientasi guru Bidang studi bahasa Arab tingkat Madrasah aliyah se-Propinsi Lampung yang diadakan oleh Kanwil Depag Propinsi Lampung tahun 2007,Diklat Tutor Paket B se-propinsi lampung pada 2007 oleh Dinas Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dll.Di organisasi social aktif di Gerakan pemuda (GP) Ansor Anak Cabang Adiluwih Sebagai pengurus Devisi Advokasi,Organisasi Alumni sebagai Ketua IKAMAPRI (Ikatan alumni MAN Pringsewu )Periode 2008-2010 dan Iksan Huda (Ikatan Santri Alumni Nurul Huda) Sebagai Koordinator Wilayah adiluwih.Mendapat penghargaan Terbaik ke III pada Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) XI tahun 2008 dari Bupati Tanggamus ,Penghargaan pendidikan bagi seluruh pendidik di propinsi lampung dari Gubernur Lampung.

Selengkapnya...

 

Susahsesaat

Susahsesaat

Susahsesaat

Susahsesaat